Sharing tentang Tata Cara Pengolahan Pangan

AKHIR pekan lalu,  Sabtu (31/10/2015) Akpar Majapahit kedatangan tamu dari Lombok Nusa Tenggara Barat (NTB) yakni Hj Zainab bersama suaminya H Sanusi dan Maulina keponakan mengunjungi laboratorium Pastry dan Culinary Akpar Majapahit, Jl Raya Jemursari No. 244 Surabaya.

Hj Zainab --pengelola Lembaga Pelatihan Putri Rinjani-- itu datang ke Surabaya didampingi bapak Ilud dan ibu Danny dari Sahabat Usaha Rakyat. Kedatangan rombongan Hj. Zainab ke Kampus Akpar Majapahit diterima langsung oleh Ir Juwono Saroso MM, Presdir Matoa Holding di ruang kerjanya, Sabtu (31/10/2015) siang.

Ihwal kedatangan Hj Zainab ke Kota Pahlawan tidak lepas dari hasil pertemuan Ir Juwono Saroso MM bersama delegasi Kadin Jatim saat melakukan kunjungan kerja ke NTB, September silam. Ketika itu, rombongan pengusaha anggota Kadin Jatim bertemu dengan sejumlah pengusaha kecil menengah (UKM) asal NTB, salah satunya Hj Zainab, dalam suatu acara temu bisnis.

”Nah pertemuan itu berlanjut dengan kedatangan kami ke Surabaya dan bertemu kembali dengan Ir Juwono Saroso MM di kampus Akpar Majapahit. Studi banding ke Akpar Majapahit ini merupakan langkah awal kami untuk sharing tentang pengolahan pangan mengingat kampus ini punya program Studi Pastry, Culinary, Teknologi Pangan, Pariwisata dan Perhotelan,” terang Hj Zainab bersama H Sanusi disela-sela meninjau fasilitas laboratorium Pastry dan Culinary.

Ibu paro baya ini sangat terkesan dengan fasilitas laboratorium di kampus yang dikelola Ir Juwono Saroso MM. Ini menambah keyakinan dirinya untuk belajar lebih banyak seputar teknonologi pangan termasuk di dalamnya teknik pengolahan pangan yang enak, higienis dan bisa diterima pasar.

Pasalnya, selama meninjau fasilitas laboratorium, pihaknya sempat berbincang dengan Chef Muh. Rifai Hikmawan di dapur pastry dan berdiskusi dengan Chef Ari Purwanto di dapur culinary seputar pemanfaatan hasil laut dan pertanian untuk diolah menjadi produk yang bernilai ekonomi tinggi sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat di pedesaan maupun perkotaan.

Masih menurut Hj Zainab, keberadaan Lembaga Pelatihan Putri Rinjani lebih banyak menghelat pelatihan teknologi tepat guna termasuk pengolahan pangan untuk warga yang tidak mampu di daerah Lombok dan sekitarnya tanpa dipungut biaya alias free of charge (FOC). Di lembaga itu, masyarakat setempat bisa belajar tentang pengolahan daging sapi, jagung dan rumput laut (Pijar).

Pengolahan daging sapi dibuat abon dan dendeng, sedangkan rumput laut diolah menjadi dodol dan jagung dijadikan snack tortilla yang bahan utamanya dari jagung, rumput laut dan diperkaya dengan bumbu untuk membuat snack dan aneka kripik dengan citarasa original, setengah pedas dan pedas.

Keberadaan lembaga yang dipimpinnya juga menjembatani petani rumput laut maupun petani jagung untuk mendapat hasil dari penjualan usaha taninya dengan harga di atas harga tengkulak (pengepul) karena pihaknya membeli hasil panen petani di atas harga pengepul.

Misalnya, harga rumput laut di tingkat petani Rp 4.000 per kg, pihaknya membeli dengan harga Rp 6.000 per kg, sedangkan tengkulak hanya menghargai Rp 4.000 per kg sementara harga di pasaran bermain pada kisaran Rp 8.000 per kg.

Disparitas harga rumput laut di pasaran inilah yang memicu kesenjangan kesejahteraan petani dengan pihak pengepul yang pada gilirannya membuat usaha tani rumput laut terpukul terutama pada saat musim panen raya harganya malah anjlok.

Dengan memanfaatkan teknologi pengolahan pangan sederhana, pihaknya bisa memberi nilai tambah (added value) dari pengolahan daging sapi menjadi abon, rumput laut menjadi dodol dan jagung diolah menjadi kripik jagung (tortilla), maka masyarakat kini mulai merasakan manfaatnya.

Namun kami belum puas terhadap citarasa produk abon, dodol maupun tortilla yang kami produksi. Makanya kami datang ke kampus Akpar Majapahit di Surabaya untuk mendapatkan berbagai masukan demi peningkatan produk yang kami buat di masa mendatang,” tutur Hj. Zainab seraya menyerahkan contoh produk tortilla dan dodol rumput laut kepada Ir Juwono Saroso MM, Presdir Matoa Holding.

Setelah mencicipi kripik jagung (tortilla) produksi Lembaga Pelatihan Putri Rinjani Lombok (NTB), citarasa rumput lautnya yang khas belum terasa karena lebih didominasi oleh jagung. Oleh karena itu, pihaknya siap berbagi pengalaman dengan pihak Putri Rinjani seputar tata cara membuat tortila yang renyah dan enak rasanya sehingga bisa diterima pasar.

”Saya bersama tim Teknologi Pangan dari Akpar Majapahit punya resep-resep ciamik untuk membuat abon dari daging sapi, dodol rumput laut dan tortilla yang siap untuk di-share dengan pihak Putri Rinjani. Kalau soal berbagi ilmu dengan pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), kami tidak pelit karena jika mereka sukses dalam menjalankan bisnisnya, kami tentu senang luar biasa,” pungkasnya.